Selasa, 02 Agustus 2011

Tauhid (Hakekat dan kedudukannya)

Firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala :
]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات:56)
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah() kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).
]وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت[(النحل: من الآية:36)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Alloh (saja) dan jauhilah thoghut”().” (QS. An Nahl, 36).
]وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا[
 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al Isra’, 23-24).
]قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[
“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Alloh (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Alloh. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).
          Ibnu Mas’ud RadhiAllohu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad ShallAllohu’alaihi wa Sallam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.()”
       Mu’adz bin Jabal RadhiAllohu’anhu berkata :
كنت رديف النبي  على حمار، فقال لي :” يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : ” لا تبشرهم فيتكلوا “.
 
“Aku pernah diboncengkan Nabi ShallAllohu’alaihi wa Sallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Alloh yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Alloh?, Aku menjawab : “Alloh dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Alloh yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Alloh ialah bahwa Alloh tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasululloh, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah” (HR. Bukhari, Muslim).

         Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :
  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Alloh Ta’ala.
  2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
  3. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada  Alloh Tabaroka waSubhanahu wa Ta’ala inilah sebenarnya makna firman Alloh :
]ولا أنتم عابدون ما أعب[
        “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)
  1. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].
  2. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
  3. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala saja].
  4. Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.
        Dan inilah maksud dari firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala :
]فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى[
“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Alloh, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).
  1. Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Alloh.
  2. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama terdahulu penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
  3. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra' mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Alloh :
]لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا[
“Janganlah kamu menjadikan bersama Alloh sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).
               Dan diakhiri dengan firmanNya :
]ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا[
“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Alloh sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Alloh)” (QS. Al Isra’, 39).
Dan Alloh mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya:
]ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة[
“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).
  1. Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Alloh memulainya dengan firmanNya:
] واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا [
“Beribadahlah kamu sekalian kepada Alloh (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).
  1. Perlu diingat wasiat Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam di saat akhir hayat beliau.
  2. Mengetahui hak-hak Alloh yang wajib kita laksanakan.
  3. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Alloh apabila mereka melaksanakannya.
  4. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat().
  5. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.
  6. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
  7. Rasululloh ShallAllohu’alaihi wasallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Alloh.
  8. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Alloh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
  9. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
  10. Kerendahan hati Rasululloh, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.
  11. Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.
  12. Keutamaan Muadz bin Jabal..



 



([1])   Ibadah ialah penghambaan diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Alloh semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
         Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh. Dan suatu amal akan diterima oleh Alloh sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Alloh semata dan mengikuti tuntunan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

([2])   Thoghut ialah : setiap yang diagungkan selain Alloh dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

([3])   Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.

([4])  Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasululloh menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Alloh. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.

Syafa'at

Firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala :
]وأنذر به الذين يخافون أن يحشروا إلى ربهم ليس لهم من دونه ولي ولا شفيع لعلهم يتقون[
          “Dan berilah peringatan dengan apa yang telah diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan kepada Rabb mereka (pada hari kiamat), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain Alloh, agar mereka bertakwa” (QS. Al An’am, 51).
]قل لله الشفاعة جميعا[
“Katakanlah (hai Muhammad) : hanya milik Alloh lah syafaat itu semuanya” (QS. Az zumar, 44).
]من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه[
“Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Alloh tanpa seizinNya” (QS. Al baqarah, 225).
]وكم من ملك في السموات لا تغني شفاعتهم شيئا إلا من بعد أن يأذن الله لمن يشاء ويرضى[
          “Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Alloh mengiizinkan (untuk diberi syafaat) bagi siapa saja yang dikehendaki dan diridhoiNya” (QS. An Najm, 26).
]قل ادعوا الذين زعمتم من دون الله لا يملكون مثقال ذرة في السموات ولا الأرض  وما لهم فيهما من شرك وما له منهم من ظهير ولا تنفع الشفاعة عنده إلا لمن أذن له[
          “Katakanlah  : “serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Alloh, mereka tak memiliki kekuasaan seberat dzarrah  (biji atum) pun di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sama sekali tidak ada di antara mereka menjadi pembantu bagiNya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Alloh, kecuali bagi orang yang telah diizinkaNya memperoleh syafaat itu …” (QS. Saba’, 22).
           Abul Abbas () mengatakan : “Alloh telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selain diriNya sendiri, dengan menyatakan bahwa tidak ada seorangpun selainNya yang memiliki kekuasaan, atau bagiannya, atau menjadi pembantu Alloh.
           Adapun tentang syafa’at, maka telah ditegaskan oleh Alloh bahwa syafaat ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan untuk memperolehnya, sebagaimana firmanNya :
]ولا يشفعون إلا لمن ارتضى[
“Dan mereka tidak dapat memberi syafa’at, kecuali kepada orang yang diridhoi Alloh” (QS. Al Anbiya’, 28).

 

          Syafa’at yang diperkirakan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan ada pada hari kiamat, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Al qur’an.

          Dan diberitakan oleh Nabi ShallAllohu’alaihi wa Sallam : “bahwa beliau pada hari kiamat akan bersujud kepada Alloh dan menghaturkan segala pujian kepadaNya, beliau tidak langsung memberi syafaat lebih dahulu, setelah itu baru dikatakan kepada beliau : “Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya ucapanmu pasti akan didengar, dan mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan, dan berilah syafa’at niscaya syafa’atmu akan diterima”.) HR. Bukhori dan Muslim)
           Abu Hurairah RadhiAllohu’anhu bertanya kepada beliau : “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atmu ?”, Beliau menjawab : “yaitu orang yang mengucapkan La Ilaha IllAlloh dengan ikhlas dari dalam hatinya” .) HR. Bukhori dan Ahmad)
           Syafa’at yang ditetapkan ini adalah syafaat untuk Ahlul Ikhlas Wattauhid (orang-orang yang mentauhidkan Alloh dengan ikhlas karena Alloh semata) dengan seizin Alloh, bukan untuk orang yang menyekutukan Alloh dengan yang lainNya.
          Dan pada hakikatnya, bahwa hanya Alloh lah yang melimpahkan karuniaNya kepada orang-orang yang ikhlas tersebut, dengan memberikan ampunan kepada mereka, dengan sebab doanya orang yang telah diizinkan oleh Alloh untuk memperoleh syafa’at, untuk memuliakan orang tersebut dan menempatkanya di tempat yang terpuji.
          Jadi syafa’at yang ditiadakan oleh Al qur’an adalah yang didalamnya terdapat kemusyrikan. Untuk itu Al Qur’an telah menetapkan dalam beberapa ayatnya bahwa syafaat itu hanya ada dengan izin Alloh. Dan Nabi pun sudah menjelaskan bahwa syafa'at itu hanya diperuntukan untuk orang-orang yang bertauhid dan ikhlas karena Alloh semata”.
 

        Kandungan bab ini :
  1. Penjelasan tentang ayat-ayat diatas ().
  2. Syafa’at yang dinafikan adalah syafa’at yang didalamnya terdapat unsur-unsur kemusyrikan.
  3. Syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at untuk orang-orang yang bertauhid dengan ikhlas, dan dengan izin Alloh.
  4. Penjelasan tentang adanya syafa’at kubro, yaitu  : Al Maqom Al Mahmud (kedudukan yang terpuji).
  5. Cara yang dilakukan oleh Rasululloh ketika hendak mendapatkan syafa’at, beliau tidak langsung memberi syafa’at lebih dahulu, tapi dengan bersujud kepada Alloh, menghaturkan segala pujian kepadaNya, kemudian setelah diizinkan oleh Alloh barulah beliau memberi syafa’at.
  6. Adanya pertanyaan : “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’at beliau ?”
  7. Syafa’at itu tidak diberikan kepada orang yang mensekutukan Alloh.
  8. Penjelasan tentang hakikat syafa’at yang sebenarnya.

 



([1])  Syafaat telah dijadikan dalil oleh kaum musyrikin dalam memohon kepada malaikat, nabi dan wali. Kata mereka : “Kami tidak memohon kepada mereka kecuali untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan memberikan syafa’at kepada kami di sisiNya”, maka dalam bab ini diuraikan bahwa syafa’at yang mereka harapkan itu adalah percuma, bahkan syirik, dan syafa’at hanyalah hak Alloh semata, tiada yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan seizinNya bagi siapa yang mendapat ridhaNya.

([2])  Taqiyuddin Abul Abbas ibnu Taimiyah : Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah An Numairi Al Harrani Ad Dimasqi. Syaikhul Islam, dan tokoh yang gigih sekali dalam gerakan dakwah Islamiyah. Dilahirkan di Harran, tahun 661 H (1263 M) dan meninggal di Damaskus tahun 728 H (1328).

([3])  Ayat pertama dan kedua menunjukkan bahwa syafa’at seluruhnya adalah hak khusus bagi Alloh.
       Ayat ketiga menunjukkan bahwa syafa’at itu tidak diberikan kepada seseorang, tanpa adanya izin ddari Alloh.
       Ayat keempat menunjukkan bahwa syafa’at itu diberikan oleh orang yang diridhoi Alloh dengan izin dariNya. Dengan demikian syafa’at itu adalah hak mutlak Alloh, tidak dapat diminta kecuali dariNya, dan menunjukkan pula kebatilan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri kepada malaikat, nabi atau orang-orang sholeh, untuk meminta syafaat mereka.
        Ayat kelima mengandung bantahan terhadap kaum musyrikin yang mereka itu menyeru selain Alloh, seperti malaikat dan makhluk-makhluk lainnya, karena menganggap bahwa makhluk-makhluk itu bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudhorat, dan menunjukkan bahwa syafa’at tidak berguna bagi mereka, karena syirik yang mereka lakukan, tetapi hanya berguna bagi orang yang mengamalkan tauhid, dan itupun dengan izin Alloh.


Kitab Tauhid Syekh Muhammad At Tamimi

Penyebab Utama Kekafiran adalah Berlebih-lebihan Dalam Mengagungkan Orang-orang Sholeh

Firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala :
]يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم ولا تقولوا على الله إلا الحق[
“Wahai orang-orang ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar.” (QS. An nisa’, 171).
           Dalam shoheh Bukhori ada satu riwayat dari Ibnu Abbas RadhiAllohu’anhu yang menjelaskan tentang firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala :
]وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونسرا[
          “Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata : janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr” (QS. Nuh, 23)
           Beliau (Ibnu Abbas) mengatakan : “Ini adalah nama orang-orang sholeh dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meniggal dunia, syetan membisikan kepada kaum mereka agar membikin patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana disitu pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang-orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut mulai disembah”.
          Ibnul Qoyyim berkata (): “banyak para ulama terdahulu mengatakan : “setelah mereka itu meninggal, banyak orang-orang yang berbondong-bondong mendatangi kuburan mereka, lalu mereka membikin patung-patung mereka, kemudian setelah waktu berjalan beberapa lama ahirnya patung-patung tersebut dijadikan sesembahan”.
           Diriwayatkan dari Umar RadhiAllohu’anhu bahwa Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam bersabda :
“لا تطروني كما أطرت النصارى عيسى بن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله”
          “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : Abdullah (hamba Alloh) dan Rasululloh (Utusan Alloh)” (HR. Bukhori dan Muslim).
          Dan Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam bersabda :
“إياكم والغلو، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو”
“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah dari Ibnu Abbas RadhiAllohu’anhu).
Dan dalam shoheh Muslim, Ibnu Mas’ud RadhiAllohu’anhu berkata : bahwa Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam bersabda :
“هلك المتنطعون ” قالها ثلاثا.
“Binasalah orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan” (diulanginya ucapan itu tiga kali).


        Kandungan dalam bab ini :
  1. Orang yang memahami bab ini , akan jelas baginya keterasingan Islam, dan ia akan melihat betapa kuasanya Alloh itu untuk merubah hati manusia.
  2. Mengetahui bahwa awal munculnya kemusyrikan di muka bumi ini adalah karena sikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh.
  3. Mengetahui apa yang pertama kali diperbuat oleh orang-orang sehingga ajaran para Nabi menjadi berubah, dan apa faktor penyebabnya ?, padahal mereka mengetahui bahwa para Nabi itu adalah utusan Alloh.
  4. Mengetahui sebab-sebab diterimanya bid’ah, padahal syari’ah dan fitrah manusia menolaknya.
  5. Faktor yang menyebabkan terjadinya hal diatas adalah tercampur aduknya kebenaran dengan kebatilan ;
        Adapun yang pertama ialah : rasa cinta kepada orang-orang sholeh.
        Sedang yang kedua ialah : tindakan yang dilakukan oleh orang orang ‘alim yang ahli dalam masalah agama, dengan maksud untuk suatu kebaikan, tetapi orang-orang yang hidup sesudah mereka menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu.
  1. Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Nuh ([2]).
  2. Mengetahui watak manusia bahwa kebenaran yang ada pada dirinya bisa berkurang, dan kebatilan malah bisa bertambah.
  3. Bab ini mengandung suatu bukti tentang kebenaran pernyataan ulama terdahulu bahwa bid’ah adalah penyebab kekafiran.
  4. Syetan mengetahui tentang dampak yang diakibatkan oleh  bid’ah, walaupun maksud pelakunya baik.
  5. Mengetahui kaidah umum, yaitu bahwa sikap berlebih-lebihan dalam agama itu dilarang, dan mengetahui pula dampak negatifnya.
  6. Bahaya dari perbuatan sering mendatangi kuburan dengan niat untuk suatu amal shalih.
  7. Larangan adanya patung-patung, dan hikmah dibalik perintah menghancurkannya (yaitu : untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kemusyrikan).
  8. Besarnya kedudukan kisah kaum Nabi Nuh ini, dan manusia sangat memerlukan akan hal ini, walaupun banyak diantara mereka yang telah melupakannya.
  9. Satu hal yang sangat mengherankan, bahwa mereka (para ahli bid’ah) telah membaca dan memahami kisah ini, baik lewat kitab-kitab tafsir maupun hadits, tapi Alloh menutup hati mereka, sehingga mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh adalah amal ibadah yang paling utama, dan merekapun beranggapan bahwa apa yang dilarang oleh Alloh dan Rasulnya adalah kekafiran  yang menghalalkan darah dan harta.
  10. Dinyatakan bahwa mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh itu tiada lain karena mengharapkan syafaat mereka.
  11. Mereka menduga bahwa orang-orang berilmu yang membikin patung itu bermaksud demikian.
  12. Pernyataan yang sangat penting yang termuat  dalam sabda Nabi : “Janganlah kalian memujiku dengan berlebih-lebihan, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam”. Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan Alloh kepada beliau yang telah menyampaikan risalah dengan sebenar benarnya.
  13. Ketulusan hati beliau kepada kita dengan memberikan nasehat bahwa orang-orang yang berlebih-lebihan itu akan binasa.
  14. Pernyataan bahwa patung-patung itu tidak disembah kecuali setelah ilmu [agama] dilupakan, dengan demikian dapat diketahui nilai keberadaan ilmu ini dan bahayanya jika hilang.
  15. Penyebab hilangnya ilmu agama adalah meninggalnya para ulama.


    -------------------------------
    ([1])   Abu Abdillah : Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’d Az Zur’I Ad Dimasqi, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Seorang ulama besar dan tokoh gerakan da’wah Islamiyah; murid syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Mempunyai banyak karya ilmiyah. Dilahirkan tahun 691 H (1292 M) dan meninggal tahun 751 H (1350 M).
    ([2])   Ayat ini menunjukkan bahwa sikap yang berlebih-lebihan dan melampaui batas terhadap orang-orang sholeh adalah yang menyebabkan terjadinya syirik dan tuntunan agama para Nabi ditinggalkan.

    Kitab Tauhid Syekh Muhammad At Tamimi

Mengamalkan Tauhid Dengan Sebenar-sebenarnya Dapat Menyebabkan Masuk Sorga Tanpa Hisab

 Firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala :
]إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [(120) سورة النحل
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS, An Nahl, 120)
]والذين هم بربهم لا يشركون[
“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun, 59)
          Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Zubair, lalu ia bertanya : “siapa diantara kalian melihat bintang yang jatuh semalam ?, kemudian aku menjawab : “ aku ”, kemudian kataku : “ ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan sholat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku : “lalu apa yang kau lakukan ?”, aku menjawab : “aku minta di ruqyah ()”, ia bertanya lagi : “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu ?”, aku menjawab : “yaitu : sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi : “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu ?”, aku menjawab : “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib :
“لا رقية إلا من عين أو حمة”
“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain([2]) atau terkena sengatan”.
         Said pun berkata : “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasululloh, beliau bersabda :

“عرضت علي الأمم، فرأيت النبي معه الرهط، والنبي معه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي : هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي : هذه أمتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منزله، فحاض الناس في أولئك، فقال بعضهم : فلعلهم الذي صحبوا رسول الله r، وقال بعضهم : فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله أخبروه، فقال :” هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون ” فقام عكاشة بن محصن فقال : ادع الله أن يجعلنى منهم، فقال : أنت منهم، ثم قال رجل آخر فقال : ادع الله أن يجعلني منهم، فقال  :” سبقتك عكاشة “.

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku : bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku : mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang  yang masuk sorga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu, kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu ?, ada diantara mereka yang berkata : barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata : barang kali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Alloh dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.



         Kemudian Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathoyyur ([3]) dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka, kemudian Ukasyah bin Muhshon berdiri dan berkata : mohonkanlah kepada Alloh  agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda : “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata : mohonkanlah kepada Alloh  agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah” (HR. Bukhori & Muslim)


      Kandungan  bab ini :
1.  Mengetahui adanya tingkatan tingkatan manusia dalam bertauhid.
2.  Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya.
3.  Pujian Alloh kepada Nabi Ibrahim, karena beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.
4.  Pujian Alloh kepada tokoh para wali Alloh (para shahabat Rasululloh) karena bersihnya diri mereka dari kemusyrikan.
5. Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli  dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathoyyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.
6.  Tawakkal kepada Alloh adalah sifat yang mendasari sikap tersebut.
7.  Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut  tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.
8.  Semangatnya para sahabat untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan.
9.  Keistimewaan umat Islam dengan kwantitas dan kwalitasnya.
10. Keutamaan para pengikut Nabi Musa.
11. Umat umat terdahulu telah ditampakkan kepada Nabi Muhammad.
12. Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.
13. Sedikitnya orang-orang yang mengikuti ajakan para Nabi.
14. Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.
15. Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.
16. Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ain dan sengatan.
17. Luasnya ilmu para ulama terdahulu, hal itu bisa diketahui dari ucapan Said bin Zubair : “Sungguh telah berbuat baik orang  yang  mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi …”, dengan demikian jelaslah  bahwa hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.
18. Kemuliaan sifat para ulama terdahulu, karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat buat.
19. Sabda Nabi : “Engkau termasuk golongan mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau.
20. Keutamaan Ukasyah.
21. Penggunaan kata sindiran ([4]).
22. Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad.

 

([1])    Ruqyah, maksudnya di sini, ialah : penyembuhan dengan bacaan ayat-ayat Al qur’an atau doa-doa.
([2])  Ain, yaitu : pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.
([3])  Tathoyyur ialah : merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.
([4])  Karena beliau bersabda kepada seseorang : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya : “Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka”.

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi

Keistimewaan Tauhid Dan Dosa-dosa Yang Diampuni Karenanya

Firman Alloh Subhanahu waSubhanahu wa Ta’ala :
]الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون[
“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai keimanan() mereka dengan kedzoliman (kemusyrikan)([2]) mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat jalan hidayah”, (QS. Al An’am, 82).
Ubadah bin Shomit RadhiAllohu’anhu menuturkan : Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam bersabda :
” من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ” أخرجاه
“Barang siapa yang bersyahadat([3]) bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Alloh saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Alloh pasti memasukkanya ke dalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. (HR. Bukhori & Muslim)
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban RadhiAllohu’anhu bahwa Rasululloh bersabda :
"Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan neraka bagi orang-orang yang mengucapkanلا إله إلا الله  dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Alloh”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri RadhiAllohu’anhu bahwa Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam bersabda :
” قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله ” (رواه ابن حبان والحاكم وصححه).
“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingatMu dan berdoa kepadaMu”, Alloh berfirman :”Ucapkan hai Musaلا إله إلا الله  ”, Musa berkata : “Ya Rabb, semua hambaMu mengucapkan itu”, Alloh menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimatلا إله إلا الله  diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimatلا إله إلا الله  lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban, dan Imam Hakim sekaligus menshohehkannya).
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaiannya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik RadhiAllohu’anhu ia berkata aku mendengar Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam bersabda :
” قال الله تعالى : يا ابن آدم، لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا، لأتيتك بقرابها مغفرة “
 “Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hai anak Adam, jika engkau datang kepadaKu dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.

          Kandungan bab ini :
  1. Luasnya karunia Alloh.
  2. Besarnya pahala tauhid di sisi Alloh.
  3. Dan tauhid juga dapat menghapus dosa.
  4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al An’am.
  5. Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits Ubadah.
  6. Jika anda memadukan antara hadits Ubadah, hadits Itban dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat  لا إله إلا الله, juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.
  7. Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits Itban, (yaitu ikhlas semata-mata karena Alloh, dan tidak menyekutukanNya).
  8. Para Nabi pun perlu diingatkan akan keistimewaan لا إله إلا الله .
  9. Penjelasan bahwa kalimatلا إله إلا الله  berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.
  10. Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.
  11. Langit dan bumi itu ada penghuninya.
  12. Menetapkan sifat sifat Alloh apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah ([4]).
  13. Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits Itban : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan masuk neraka bagi orang-orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan penuh ikhlas karena Alloh, dan tidak menyekutukanNya”, maksudnya adalah tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.
  14. Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Alloh dan RasulNya.
  15. Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Alloh([5]).
  16. Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh diantara ruh-ruh yang diciptakan Alloh.
  17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.
  18. Memahami sabda Rasul : “betapapun amal yang telah dikerjakannya”.
  19. Mengetahui bahwa timbangan itu mempunyai dua daun.
  20. Mengetahui kebenaran adanya wajah bagi Alloh.





([1])  Iman ialah : ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat karena Alloh, dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasululloh.

([2])  Syirik disebut kezholiman karena syirik adalah menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya, dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.

([3])  Syahadat ialah : persaksian dengan  hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.

([4])  Asy’ariyah adalah salah satu aliran teologis, pengikut Syekh Abu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari (260 – 324 H = 874 – 936 M). Dan maksud penulis di sini ialah menetapkan sifat-sifat Alloh sebagaimana yang disebutkan dalam Al qur’an maupun As sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan adalah kebenaran adanya wajah bagi Alloh, mengikuti cara yang diamalkan kaum terdahulu sholeh dalam masalah ini, yaitu : mengimani kebesaran sifat-sifat Alloh yang dituturkan Al qur’an dan As sunnah tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil. Adapun Asy’ariyah, sebagian mereka ada yang menta’wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna yang sebenarnya) dengan dalih bahwa hal itu jika tidak dita’wilkan bisa menimbulkan tasybih (penyerupaan) Alloh dengan makhlukNya, akan tetapi perlu diketahui bahwa Syekh Abu Hasan sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzhab terdahulu sholeh, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang ditulis di akhir hidupnya, yaitu Al Ibanah ‘an ushulid diyanah (editor : Abdul Qodir Al Arnauth, Bairut, makatabah darul bayan, 1401 H) bahkan dalam karyanya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang dari madzhab terdahulu.

([5])  Kalimat Alloh maksudnya bahwa Nabi Isa itu diciptakan Alloh dengan firmanNya “Kun” (jadilah) yang disampaikanNya kepada Maryam melalui malaikat Jibril.

Tauhid, Inti Dakwah Para Rasul

Penulis: Ust. Abu Hamzah (Kitab Tauhid) 

"Dan sesungguhnya telah Kami utus seorang rasul pada setiap ummat agar mereka menyeru, Beribadahlah kalian semua kepada Allah dan jauhilah thaghut". (An-Nahl : 36).

"Dan tidaklah Kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad), kecuali telah Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tiada ilah (sesembahan yang benar) kecuali Aku, maka sembahlah Aku." (Al-Anbiya : 25).

Telah lewat jaman para Rasul, dan telah turun syariat mereka untuk kaum-kaum mereka. Begitu pula telah ditetapkan inti ajaran dan dakwah dari Rasul kita, yaitu Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam.
Para rasul adalah orang-orang yang terpilih untuk menyampaikan risalah yang agung ini.

Tidaklah Allah Ta'ala mengutus dan memberikan amanah ini kepada seseorang kecuali pasti dan pasti Allah Ta'ala mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Allah 'Azza wa Jalla juga tidak akan menciptakan manusia begitu saja, ditelantarkan dan dibiarkan hidup tanpa tujuan.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala : "Apakah manusia mengira bahwa mereka ditelantarkan dan didiamkan saja " (Al-Qiyamah : 36).

Imam Syafi'i menafsirkan ayat ini, "Tidak dilarang dan tidak diperintah " (Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid Muhammad Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh)

Akan tetapi Allah berfirman : "Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat : 56)

Setelah kita dapat mengetahui tujuan Allah menciptakan kita, maka akan jelaslah apa tujuan dakwah para rasul bagi setiap umatnya, karena yang menjadi tujuan Allah pastilah juga menjadi tujuan para utusan-Nya.

Tujuan dakwah para rasul tidak lain adalah makna dari ayat yang telah tertulis di awal risalah ini (An-Nahl : 36).

Adapun makna dari ayat tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, "Sesungguhnya Dia telah mengutus seorang rasul kepada setiap kelompok manusia dengan kalimat yang tinggi, "Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut", yang artinya adalah beribadahlah kalian hanya kepada Allah semata dan tinggalkan peribadatan kepada selain-Nya."

Adapun makna Thaghut, Ibnul Qayyim berkata, "Thaghut adalah suatu keadaan yang melebihi batasan-batasan seorang hamba, seperti diibadahi, diikuti atau ditaaati (dalam hal yang melanggar syariat)."

Maka Ibnul Qayyim membagi macam-macam thaghut pada setiap kaum, yaitu :
1. Orang yag berhukum selain dari hukum Allah dan rasul-Nya (al-Qur'an dan as-Sunnah).
2. Orang yang diibadahi selain Allah dan dia ridlo.
3. Orang yang diikuti, tetapi dia tidak berada di atas bashirah (ilmu) dari Allah dan diapun ridlo.
4. Orang yang ditaati dalam perkara-perkara yang dalam perkara-perkara tersebut hanya Allah-lah yang pantas untuk ditaati dan diapun dalam keadaan ridlo. (Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid)


Sungguh para rasul yang telah diutus sangat memperhatikan ilmu tauhid ini. Dapat dilihat dari sejarah Nabi kita, Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, beliau selama tigabelas tahun mendakwahkan tauhid dan aqidah di Makkah, baru kemudian ilmu yang lainnya di Madinah.

Perjalanan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam ini menunjukkan betapa besarnya perkara tauhid ini.
Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, "Dan perkara yang paling agung, yang Allah perintahkan adalah Tauhid yang artinya mengesakan Allah dalam beribadah, sedangkan larangan yang paling besar adalah Syirik yang artinya beribadah kepada Allah tetapi disertai juga beribadah kepada selain-Nya." (Syarh Tsalatsatul Ushul Muhammad at-Tamimi, Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin).

Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya : "Beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun." (An-Nisa : 36)

Ibnul Qayyim pun berkata, "Barangsiapa yang ingin meninggikan bangunannya, maka wajib bagi dia untuk memperkuat pondasinya, karena tingginya bangunan itu ditentukan oleh kekuatan pondasinya. Amal shalih merupakan cermin dari bangunan dan keimananlah (tauhid) sebagai pondasinya.
Tentu seorang yang bijaksana akan memperhatikan secara khusus pada pondasinya dan berusaha untuk memantapkannya, akan tetapi orang yang bodoh akan berusaha untuk meninggikan bangunannya, maka tidak berapa lama bangunannya pasti akan runtuh." (Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar : 13, Syaikh Abdul Malik Ahmad Ar-Ramadhany)

Perkataan Ibnul Qayyim ini merupakan perkataan yang sangat indah. Perkataan yang menggambarkan betapa pentingnya tauhid untuk mendapatkan keutamaan di sisi Allah jalla jalaluh. Dengan tauhid maka akan menimbulkan keyakinan di hati seorang hamba dan akan melaksanakan syariat ini dengan sungguh-sungguh, dia tidak akan goyah dari hembusan-hembusan orang disekitarnya yang akan melencengkan dia dari jalan yang lurus. Jika ada suatu hal yang mencocoki syariat, maka akan dipegang erat-erat, jika tidak, maka akan dijauhi sejauh-jauhnya. Itulah hasil yang didapat dari pondasi yang kuat atau tauhid yang mantap.

Akan tetapi sungguh telah banyak manusia yang melalaikannya, bahkan dari orang-orang yang ditokohkan banyak yang mengatakan, "Untuk memajukan umat ini kita harus memperhatikan permasalahan ekonomi, teknologi, dan sosial serta politik agar tidak tertinggal dari peradaban barat yang sangat maju, dan hanya permasalahan inilah yang menjadi titik tumpu bagi kemajuan bangsa-bangsa barat".
Subhanallah !!! Maka tidak heran jika mereka, yaitu orang-orang yang ditokohkan, berbicara di atas panggung, maka mereka akan mengambil tema "Teknologi Islam", "Ekonomi Islam", dan mengenyampingkan permasalahan tauhid.

Jika ada yang mengambil tema "Tauhid yang benar", "Aqidah yang lurus", "Keutamaan Tauhid", maka ini semua dianggap kuno dan ketinggalan jaman, padahal untuk mendapatkan yang mereka idamkan diperlukan kekokohan pondasi yaitu kekuatan tauhid dengan pengamalannya yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, jika tidak, maka, demi Allah, hancurlah bangunan mereka.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia : "Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman lagi beramal shalih diantara kalian untuk menjadikan mereka pemimpin-pemimpin di bumi ini, sebagaimana Allah telah jadikan pendahulu kalian sebagai pemimpin, dan sungguh Allah akan menetapkan agama yang diridloi-Nya untuk mereka, dan sungguh Allah akan menggantikan rasa takut menjadi rasa aman bagi mereka. Yang demikian itu akan didapatkan manakala kalian menyembah-Ku dan tidak berbuat syirik dengan sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang kufur setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq." (An-Nur : 55).

Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa akan tercapainya kepemimpinan di muka bumi, ketetapan agama dan ketenangan hidup adalah hanya dengan mengamalkan tauhid, yaitu hanya beribadah kepada-Nya, dan meninggalkan syirik, yaitu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya. Ini adalah janji Allah, yang Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi jika kita mengingkari hal tersebut, melaksanakan tauhid dan meninggalkan syirik, maka Allah Ta'ala akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang fasiq.

Dengan semua penjelasan-penjelasan di atas, lalu bagaimanakah kita ? Apa yang akan kita utamakan setelah ini, tauhid atau yang lainnya ? Dengan apakah kita akan mendapatkan kejayaan, dengan tauhid atau dengan yang lain ? Sungguh jawabannya hanya berkisar pada satu titik, yaitu inti dari dakwah para rasul, yaitu mengetahui dan mengamalkan tauhid dan meninggalkan syirik. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan muwahhidin (orang-orang yang bertauhid) dan bukan musyrikin, Amiin ya Rabbal 'Alamin.
Wallahu A"lamu Bishshawab. 


http://Darussalaf.or.id

Kedudukan Tauhid dalam Islam dan Urgensinya

Sesungguhnya kaidah Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar; satu-satunya yang diterima dan diridloi Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk hamba-hamba Nya, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepada Nya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para Rasul dan para Nabi adalah ibadah hanya kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala semata dan tidak menyekutukannya, bertauhid dalam semua keinginannya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma (nama-nama) dan sifat-sifat Nya.

Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu"
(QS An Nahl: 36)


" Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS Al Anbiya' : 25)

"Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS At Taubah: 31)

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)."
(QS Az Zumar: 2-3)

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus"
(QS Al Bayyinah: 5)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
"Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta taat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Orang yang merenungi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya." (Majmu' Fatawa 15/25)


Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.

Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bid'ah dan khurafat.
(Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 4)

Setiap dakwah Islam yang baru muncul tidak dibangun di atas tauhid yang murni kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'ala dan tidak menempuh jalan yang telah dilalui oleh para salaful ummah yang shalih, maka akan tersesat hina dan gagal, meski dikira berhasil, tidak sabar ketika berhadapan dengan musuh, tidak kokoh dalam al haqq dan tidak kuat berhadapan (dengan berbagai rintangan).

Kita saksikan banyak contoh-contoh dakwah yang dicatat dalam sejarah berbicara kenyataan yang menyedihkan ini dan akhir yang buruk. Dakwah-dakwah yang berlangsung bertahun-tahun, yang telah mengorbankan nyawa dan harta kemudian berakhir dengan kebinasaan.

Namun seorang mu'min yang yakin dengan janji Allah yang pasti benar, tidak akan putus asa dan menjadi kendor, tidak akan gentar menghadapi berbagai cobaan dan tidak akan menerima jika sekian banyak percobaan-percobaan itu berlangsung silih berganti tanpa ada manfaat yang diambil atau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
(Sebagaimana hadits dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 6133) dan Imam Muslim (no 2998) serta Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/379)

Sudah ada teladan dan contoh yang paling bagus pada diri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat." (QS Al Ahzab: 21)

Inilah manhaj pertama dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada tauhid, memulai dengan tauhid dan mendahulukan tauhid dan semua urusan yang dianggap penting.

Urgensi Tauhid

Untuk memperkokoh pemahaman kita tentang pentingnya aqidah tauhid dalam kehidupan, maka pada kesempatan ini Al Madina mencoba mengangkat tulisan syaikh jamil zainu seorang ulama besar di jazirah Saudi Arabia, yang disusun dalam poin-poin dengan maksud memudahkan pemahaman kita.

Allah telah menciptakan alam semesta untuk sebuah tujuan yaitu ibadah(tauhid), dan Allah mengutus para rasul untuk menyeru manusia kepada tauhid ini. Bahkan Al Quran mengkedepankan pembahasan tauhid ini dalam kebanyakan surat-suratnya.al quran pun memaparkan kejelekan syirik(lawan dari tauhid) yang berlaku pada individu dan masyarakat.

Syirik pula merupakan sebab kehancuran kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Sesungguhnya para Rasul memulai dakwah mereka untuk mengajak manusia kepada Tauhid.

Firman ALLAH yg artinya : "Tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku" (QS Surat Al Anbiya')

Rasul pun mentarbiyah(memberikan pendidikan) kepada sahabatnya tentang tauhid ini semenjak mereka kecil, sebagaimana perkataan beliau terhadap ibnu Abbas
"Apabila Engkau memohon maka mohonlah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah ." ( HR. Tirmidzi )
Tauhid inilah hakikat dari agama Islam yang dibangun diatasnya bangunan Islam yang lain.

Rasul mengajarkan para sahabat agar memulai dakwahnya dengan tauhid, beliau bersabda kepada Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman :
" Jadikanlah awal yang kamu seru adalah syahadat Laa ilaaha illallah, pada riwayat yang lain agar mereka mentauhidkan Allah" ( Muttafaq Alaih)

Tauhid adalah perwujudan dari syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah yang maknanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan tidak beribadah kecuali dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah.
Syahadat inilah yang memasukkan seseorang kepada Islam, ia juga kunci Surga, yang seorang akan masuk surga bila mengucapkannya selama tidak beraktivitas yang membatalkan Syahadat tersebut.

Kafir Qurays menawari Rasulullah dengan kekuasaan, harta, wanita dan materi dunia yang lain agar rasul meninggalkan dakwah Tauhid ini. Rasul menolak tawaran tersebut dan terus menggencarkan aktivitas dakwahnya walau menanggung beragam ujian dan cobaan. Hingga berlalu 13 tahun dan setelah itu mekah ditakhlukkan, dihancurkan berhala yang disembah oleh orang kafir Quraisy.

Firman ALLAH yang artinya : "Telah datang kebenaran dan hancur kebatilan sesungguhnya kebatilan itu pasti akan hancur " (QS Al Isra').

Tauhid adalah kewajiban tugas seorang muslim, dengannya dimulai dan diakhiri kehidupannya. Dan tugas dalam kehidupannya adalah menegakkan Tauhid, berdakwah kepada tauhid. Tauhid pula lah yang menyatukan hati-hati orang-orang yang beriman , dan kita mohon kepada Allah agar menjadikan kalimat Tauhid sebagai akhir kehidupan kita.

http://darussalaf.or.id